Thursday, May 15, 2008

60 Tahun Nakbah Palestin

Gerakan Hamas menegaskan, perlawanan akan tetap menjadi strategi untuk mengembalikan secara penuh hak-hak rakyat Palestina yang terampas. Perlawanan akan menghapus Israel dari tanah Palestina kemudian mendirikan negara Palestina yang merdeka, berkedaulatan penuh, dengan ibukota Al-Quds, meskipun pengorbanan harus terus ditingkatkan dan harus dibayar mahal.

Gerakan Hamas hari ini Kamis (15/5) menegaskan dalam peringatan 60 tahun terjajahnya Palestina bahwa perampasan Palestina oleh Israel adalah tragedi paling besar yang dicatat dalam sejarah Arab dan Islam. Sebab penjajahan ini telah mengubah kehidupan rakyat Palestina menjadi derita panjang tak terperikan.

Ia menambahkan dalam pernyataan persnya yang diterima oleh Infopalestina bahwa Israel mendeklarasikan negaranya di atas tanah Palestina, di atas siraman darah dan ceceran daging rakyat Palestina. Negara penjajah yang didirikan di atas penderitaan para korban luka yang cacat dan penderitaan tawanan Palestina, pencaplokan tanah untuk permukiman yahudi, penghapusan batas-batas peninggalan senjarah dan tempat suci Palestina.

Namun semua kejahatan Israel tidak akan melumpuhkan tekad rakyat Palestina untuk melawan dan memberikan pengorbanan untuk mengembalikan hak-haknya. Mereka akan senantiasa setia bekerja membebaskan Palestina sampai Israel tidak berdaya menghadapi keteguhan tekad kami. Sebab Israel kini mulai tergulung di belakang tembok bersama pasukannya ketika menghadapi perlawanan.

Hamas menegaskan bahwa beberapa pendeta-pendeta Yahudi mengakui kegagalan proyek zionis di Palestina. Padahal proyek itu didukung oleh pemerintah AS, kekuatan terbesar di dunia, baik secara politik, dana dan militer dalam menghadapi perlawanan Palestina.

Hamas kembali menegaskan bahwa perampasan Israel terhadap Palestina adalah perampasan terhadap tanah Arab dan Islam. Karenanya, tugas memerdekakan adalah kewajiban syariat setiap muslim.

Gerakan Hamas menegaskan bahwa hak kembali adalah hak suci yang tidak bisa ditawar-tawar. Disamping itu, masalah tahanan Palestina di penjara Israel adalah prioritas perlawanan. Semua pilihan akan dilakukan perlawanan sampai mereka dibebaskan. Pembebasan serdadu Galiad Shalit tidak menjadi akhir dari perlawanan Palestina.

Disamping itu, Hamas meminta kepada Otoritas Palestina untuk berhenti melakukan perundingan sia-sia dengan Israel. sebab selama ini Otoritas Palestina hanya memberikan kompromi-kompromi. Hamas mengajak Abbas untuk memilih jalan perlawanan.

Hamas juga meminta kepada negara-negara Arab dan Islam untuk bertanggungjawab atas apa yang terjadi di Palestina berupa kejahatan berdarah oleh Israel. Mereka harus mendukung Palestina secara politik, dana, moral untuk memecahkan masalah mereka dengan adil, membebaskan blokade dan membuka perlintasan-perlintasan terutama Rafah. (bn-bsyr)

sumber: http://palestine-info.co.uk/en