Sunday, July 09, 2006

...(Inilah) simulasi materi aqidah (tidak takut masa depan) dari halaqah-halaqah yang saya ikuti.

Oleh
Ukhti Nurika Nugraheni, Yogjakarta

Teks asal dari cerpen “Games” keimanan eramuslim.com

Lain waktu ada seorang menelefon, memerlukan wang 6 juta rupiah saat itu juga. Tentu saja ini perkara yang mendesak. Saat itu saya hanya mepunyai wang beberapa ratus ribu yang sudah saya rencanakan untuk melunasi bayaran bulanan kenderaan dan credit handphone. Bisa saja saya bilang bahawa saya tidak punya wang padanya, karena begitulah adanya. Tetapi saya ingat, saya telah berkomitmen untuk mengambil pelajaran dalam setiap peristiwa hidup yang saya alami. Kalau saya menolaknya, saya pasti akan kehilangan proses belajar yang belum tentu akan saya alami pada kesempatan lain. Bukankah ini inti materi tarbiyah dzatiyah, kita hidup untuk terus belajar.

Kadang, saya merasa perlu untuk menciptakan tentangan-tentangan dalam hidup, supaya keimanan saya terus berghairah dan bergerak naik. Juga perlu untuk terus-menerus melatih diri saya supaya mengalami peningkatan-peningkatan. Tidak saja tentang ketrampilan hidup tetapi tentang segumpal daging (hati) yang harus selalu saya pastikan, ia akan bercahaya dan semakin terang. Karena hidayah dijelaskan dalam kalimat aktif, sebagaimana ia bukan barang yang tiba-tiba saja ada dalam dada. Tetapi kitalah yang senantiasa harus jeli meneliti, mengambil kebaikan dari sesuatu yang nampak menjijikkan. “Kami memberimu air susu yang bersih antara tahi dan darah (An-Nahl: 66) dan bersama kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasrah:5).

Subhanallah