Wednesday, August 23, 2006

Resolusi 1701 Tak Selesaikan Inti Persoalan

By
Dr. Yusuf Kamel Ibrahem
Pensyarah di Universiti Al Aqsha - Gaza

Majlis Keselamatan (Security Council) PBB akhirnya bersetuju keatas projek yang diusulkan oleh Perancis – Amerika berkaitan kekerasan Israel atas Lubnan. Seperti biasa, Majlis Keselamatan PBB mengeluarkan resolusi-resolusinya dengan dengan cara yang menimbulkan kerancuan dan multi tafsir. Sebab yang mengkonsepnya adalah Amerika yang kemudian dimajukan kepada anggota Majlis Keselamatan agar mereka melakukan undian (padahal draft resolusi itu telah disosialisasikan Amerika sebelumnya). Seperti biasa, resolusi yang dikeluarkan Majlis Keselamatan PBB hanya berpihak kepada kelompok invator dan kaum aniaya daripada berpihak kepada korban yang tertindas. Ironi resolusi DK PBB itu pun berulang di resolusi no. 1701. Resolusi baru ini tidak mengisyaratkan pada gencatan senjata. Namun menegaskan secara tekstual “dihentikannya tindakan permusuhan--siapa yang bermusuh”. Juga menegaskan sejumlah titik masalah yang masih menjadi kontroversi. Sejumlah pasal juga mencerminkan ketidakadilan dan tidak obyektif terutama penegasannya sejumlah pasal bahwa kelompok perlawanan yang bertanggungjawab karena telah memulai serangan. Sementara dalam resolusi ini sama sekali tidak mencela atau menyalahkan Israel bahkan dalam resolusi ini tidak disebutkan sama sekali yang terkait dengan permusuhan, kejahatan atau permusuhan Israel yang sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya. Padahal Israel secara terang telah membunuh lebih dari 1000 orang di Libanon, membumihanguskan infrastruktur Libanon dan melakukan kejahatan perang.

Resolusi ini juga tidak mempertegas soal perkebunan Syab’a. Soal perkebunan Syab’a dalam resolusi Majlis Keselamatan PBB kali ini hanya meminta kepada Setiausaha Agung PBB untuk membawa sejumlah usulan ke Dewan Keselamatan dalam waktu 30 hari untuk menentukan perbatasan Lubnan secara detail. Artinya resolusi ini menjadikan Syab’a isu untuk difikir ulang dan yang akan dibawa nantinya ke Majlis Keselamatan untuk keputusan muktamad.

Pertanyaannya di sini, siapa yang menentukan persepsi dan pemikiran tentang Syab’a??
Dalam resolusi ini juga tidak ada kepedulian dengan tahanan Libanon yang berada di penjara Israel seakan mereka dianggap tidak ada. Resolusi tidak menyinggung pelanggaran serangan udara, darat dan laut serta perairan Lubnan. Juga tidak menyinggung pelanggaran Israel terhadap kedaulatan Lubnan yang dilakukan setiap hari dan terus-menerus. Resolusi juga tidak menyinggung penjajahan Israel terhadap perkebunan Syab’a. Padahal krisis belakangan muncul sesungguhnya dipicu oleh penjajahan Israel terhadap Syab’a dan harus dicarikan solusi segera untuk mengembalikan perkebunan ini kepada republik Lubnan. Resolusi Majlis Keselamatan PBB kali ini tidak menyentuh soal peta bom ranjau yang dipasang Israel di wilayah yang cukup luas di selatan Lubnan yang menelan ribuan korban rakyat Lubnan.

Resolusi ini seperti halnya resolusi Majlis Keselamatan PBB lainnya yang hanya menyisakan tinta di kertas namun tidak menyentuh masalah inti yang sebenarnya dan tidak menyelesaikannya serta tidak memberikan solusi inti. Inilah yang muncul dari pernyataan sejumlah pihak terhadap perang ini. Adapun masalah penenangan dan pembiusan atas kondisi yang dialami oleh Libanon maka tunggu saja pada suatu saat akan meledak, dan ini tampak jelas pada sikap berbagai pihak.

Nasib Perkebunan Syab’a di bawah kesepakatan Amerika – Israel
Sejumlah sumber media menyebutkan, negara zionis Israel telah memberikan isyarat yang membuka niat mereka untuk memperkokoh penjajahan mereka terhadap wilayah Syab’a. Sumber ini mengungkap adanya janji Amerika untuk menjauhkan PBB dalam menentukan masalah final wilayah ini.

Harian Israel Haaretz dalam laman webnya mengungkap bahwa ada kesepakatan antara Israel dan Amerika soal wilayah perkebunan Syab’a dan kesepakatan ini berada di belakang resolusi Majlis Keselamatan PBB terkait dengan gencatan senjata di Lubnan. Situs yang sama mengisyaratkan adanya sumber tinggai di pemerintah Israel yang menyatakan, “Israel tidak akan komitmen dengan penarikan dari perkebunan Syab’a hingga Sekjen PBB mengumumkan bahwa wilayah ini di bawah Libanon.” Rice, Menlu Amerika juga mengisyaratkan masalah perkebunan Syab’a , “Sekjen PBB, Kofi Anna harus menyelusaikan perbedaan antara Suriah dengan Libanon tentang perkebunan Syab’a dan Israel tidak akan terpaksa melepaskan perkebunan ini pada tahapan seperti ini,”