COMES – Cairo: -Syeikh Yusuf Qardhawi, ulama besar dunia, menegaskan bahwa perlawanan di Lebanon adalah jihad yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Perlawanan di sana sama mulianya dengan perlawanan di Palestin. Syi’ah adalah bagian dari umat Islam dan ‘wajib’ bagi setiap muslim untuk menolong perlawanan ini melawan permusuhan Zionis Israel.
Dalam wawancara dengan harian Al-Wafd, Mesir, Yusuf Qardhawi mengatakan:”Perlawanan apapun adalah hal yang mulia dalam umat ini (Islam), baik itu di Palestin ataupun di Lebanon. Tidak masalah, apakah perlawanan Lebanon itu dari kalangan Syi’ah, karena mereka adalah bahagian dari umat Islam. Sama-sama mengatakan Laa Ilaaha Illallah. Dari sisi pokok-pokok agama, banyak yang sejalan dengan kita. Walaupun dalam sejumlah hal, bertentangan dengan kita.”
Qardhawi juga mengenang perlawanan rakyat Lebanon yang “Berhasil membersihkan tanah air muslim dari kotoran tangan Zionis Israel. Tinggal perkebunan Seba’ yang sebentar lagi akan bisa dibebaskan kembali,” begitu tandasnya seperti yang dilaporkan al markaz al filistini lil i'lam, Selasa (25/7). Penghargaan juga Qardhawi sampaikan kepada rakyat dan bangsa Arab yang mendukung perjuangan Lebanon. Namun beliau mengecam sikap para penguasa dan pemimpin Arab yang malah mengritik perlawanan perjuangan Islam.
“Kita semua harus siap membela Lebanon dari serangan brutal Zionis Israel yang telah menghancurkan negeri itu hanya dengan alasan ingin membebaskan tiga tahanannya. Tapi, tak ada satupun orang Arab yang bergerak ingin membebaskan sekitar 10 ribu tahanan yang sekarang ini mendekam di penjara-penjara Israel,” tambahnya tegas.
Sementara itu, Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin (IM), Muhammad Mahdi Akef, menentang habis-habisan kejahatan perang yang dilakukan oleh Zionis Israel, baik yang di Gaza maupun di Lebanon. Menurut Akef, kejahatan-kejahatan itu, dalam sejarah Yahudi, tidaklah mengherankan. Ia juga mengisyaratkan bahwa apa yang terjadi itu adalah bagian dari silsilah serangan yang dilancarkan kepada umat Islam sepanjang sejarah, oleh musuh-musuhnya.
Sebelumnya, dalam keterangannya kepada wartawan, IM mengajak untuk tidak mempedulikan sejumlah sikap Arab dan Islam yang melemahkan dukungannya kepada perlawanan Islam di Lebanon, karena (hanya mengangap) masalah kewilayahan. “Itu semua tidak membantu kepentingan dan kemaslahatan umat Islam,” tambahnya. Dalam surat tersebut, Mahdi Akef menegaskan akan sikap IM yang mengambil berat pada perlawanan Arab dan Islam, baik yang ada di Lebanon ataupun di Palestin, dalam menghadapi musuh Zionis Israel. Mereka, Zionis Israel, melancarkan permusuhan itu tidak lain untuk membasmi eksistensi dan keberadaan umat Islam.
Surat pernyataan yang ditanda-tangani langsung oleh Akef itu menyebutkan:”Saat suara jeritan dan tangisan anak dan korban melengking meminta pertolongan kepada saudaranya seiman, sebangsa dan setanah air. Di saat itu semua, kita mendengar dan melihat sejumlah orang yang ingin mencoba merobek-robek persatuan umat Islam yang sepakat untuk mendukung perlawanan di Palestin dan Lebanon. Iaitu dengan cara memunculkan fitnah dan perbedaan lama yang dulu pernah merusak otak dan jasad umat. Padahal para pemilik akal yang sehat telah sepakat untuk tidak mempersoalkan masalah-masalah tersebut.”
Dalam keterangan tersebut, IM menolak terang-terangan upaya untuk memecah-belah umat Islam dengan mengelompokkan mereka ke dalam Sunni dan Syi’ah. Atau dengan dalih menghalalkan darah bangsa demi perlawanan, karena menurut mereka, Hizbullah tidak lain hanyalah pelaku dan pelaksana agenda politik Iran di wilayah Timur Tengah.
Pernyataan tersebut, menegaskan akan sikap IM dalam masalah ini dengan mengatakan bahwa dukungan kepada perlawanan menentang musuh Zionis Israel adalah kewajiban bagi setiap muslim. “Ia merupakan hak legal yang dilindungi oleh semua hukum dan undang-undang internasional. Berikut pengalaman semua bangsa yang pernah mengalami penjajahan, pasti melakukan hal yang sama, perlawanan,” tambah pernyataan itu.
Dalam kaitan itu, pernyataan IM itu juga menegaskan bahwa target rencana penjajahan Amerika-Zionis di wilayah Timur Tengah adalah untuk memberangus eksistensi, keberadaan dan tempat suci umat Islam. Oleh karena itu, adalah menjadi kewajiban untuk membela para mujahidin yang ada di Palestin dan Lebanon.
Namun pada saat yang sama, IM mengritik tajam sikap kendur para rezim Arab yang berupaya, melalui propaganda-propaganda jahat, untuk memecah-belah persatuan umat Islam.
Dalam persoalan yang sama, sejumlah ulama dari Arab Saudi dan Yaman mengajak untuk mendukung perlawanan di Lebanon, dan menghilangkan perbedaan mazhab yang terkait dengan masalah ini.
Salah satunya adalah Syeikh Salman Audah, asal Arab Saudi, dalam acara al-hayat kalimah di TV MBC yang ditayangkan setiap Jum’at siang. Beliau meminta untuk menyatukan barisan dalam menghadapi Zionis Israel, yang mereka itu tidak hanya musuh umat Islam, tapi juga musuh kemanusiaan secara universal karena telah menghancurkan setiap penopang kehidupan.
“Untuk menyelesaikan krisis (di Lebanon ini) mari kita tinggalkan perbedaan itu. Saat ini bukanlah saat untuk perbedaan dan perpecahan. Musuh kita yang paling besar adalah Yahudi dan Zionis yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan lagi antara anak-anak tak berdosa dengan para prajurit,” tambah Salman tegas.
Ia juga menjelaskan bahwa hidup ini bukanlah satu sisi saja. Puncak kelemahan itu adalah awal dari kekuatan. Ia mengisyaratkan, bangsa Palestin yang diisolasi dari segala penjuru, tak membuatnya mendapatkan kerugian. Menurut Salman, itu sebenarnya adalah sebuah kekuatan yang tidak dimiliki oleh musuh Zionis yang sebenarnya memiliki segala persenjataan.
Syeikh Audah menekankan akan pentingnya berinteraksi dengan krisis ini tanpa menghalangi produktifitas dan pekerjaan kita. “Adalah sebuah kesalahan besar jika kita terlibat jauh pada soal-soal sekunder seputar idealisme krisis, tapi kita malah melupakan siapa musuh yang sebenarnya?!”
Sementara itu, Syeikh Abdul Majid Zendani, Rektor Universitas Al-Iman dan anggota Yaman, mengajak untuk mengadakan sidang darurat membahas revisi undang-undang rekrutmen prajurit. Beliau meminta untuk dilakukan wajib militer bagi para pemuda Yaman guna mendukung dalam pembelaan terhadap umat Islam yang darahnya telah ditumpahkan secara hina oleh Zionis Israel di Palestina dan Lebanon.
Menurut laman web News Yemen, Syeikh Zendani, dalam sebuah khotbahnya, mengacungkan bantuan kepada Hizbullah. Beliau menilai serangan Amerika-Zionis adalah pekerjaan orang penakut. Karena serangan itu dilakukan kepada sebuah kelompok yang mampu bertahan berhadapan dengan musuh Zionis Israel.
Zendani, yang juga Ketua Majlis Syuro Partai Tajammu Yaman untuk Reformasi dan mantan anggota Dewan Presiden, mengajak persatuan Arab dan Islam seperti yang dilakukan Kesatuan Eropa (UE) sebagai salah satu cara yang baik untuk pembelaan kepada umat. Beliau juga menuduh para pemimpin Arab yang tunduk dengan AS. “Kebisuan dan sikap diam diri ini adalah bahagian dari kekerdilan seperti ini,” tambahnya tegas.
Sementara itu, Persatuan Ulama Se-Dunia (PUD), mengajak semua negara-negara Arab dan Islam untuk membantu perlawanan di Lebanon dan Palestin. Lembaga itu, yang diketuai oleh Syiekh Yusuf Qardhawi, dalam pernyataan sikapnya, yang ditanda-tangani oleh setiausaha agungnya, DR. Muhammad Saleem Al-Aduw, menyampaikan penghargaan kepada sikap perlawanan di Palestin dan Lebanon. Karena menurut mereka, apa yang dilakukan itu adalah hak legal, bahkan wajib sifatnya, dalam melawan segala bentuk penjajahan. Itu adalah hak yang ditetapkan oleh Islam dan agama-agama lainnya. Bahkan itu didukung oleh Konvensi Geneva, resolusi-resolusi PBB dan lembaga-lembaga internasional lainnya.
Organisasi itu juga menekankan bahwa perlawanan adalah merupakan sikap yang paling terpuji dalam sejarah umat Islam, baik dulu hingga sekarang. Maka menjadi kewajiban bagi kita, baik penguasa ataupun rakyat, untuk memberikan apa yang sepatutnya diberikan.
Dalam pernyataannya, PUD dikejutkan oleh sikap sebagian pihak yang mencerminkan kekerdilannya. Untuk itu, PUD mengingatkan mereka dan umat Islam lainnya bahwa perang yang sekarang ini dilakukan oleh putera-putera perlawanan adalah tidak lain hanya menyeru seruan Allah ‘Azza wa Jalla yang ingin menunjukkan yang hak itu benar adanya dan yang batil adalah batil adanya, walaupun orang-orang jahat itu tidak menyukainya. Dia Allah, yang juga ingin memisahkan mana yang kotor dengan yang bersih, sehingga nanti Allah menjadikan yang kotor satu dengan lainnya dikumpulkan dalam neraka Jahannam. Demikian salah satu bunyi pernyataan PUD tersebut. (Infopalestina.com)