“Saya yakin tidak sopan, bila saya mengkritik seseorang yang menjadi buron Amerika” -Misy'al
Dengan kata-kata ini, Ustad Khalid Misy’al menjawab permintaan media masa untuk mengomentari peryataan Adl-Dlawahiri yang menuduh Hamas jatuh dalam jebakan Israel untuk memberikan kompromi-kompromi. Lebih jauh dari itu, Adl-Dlawahiri menganggap Hamas telah mati sebagai gerakan perlawanan Palestina karena telah menjual prinsip-prinsip demi kekuasaan.
Rekaman Adl-Dlawahiri mungkin tidak perlu mendapatkan respon berlebihan dan membuang waktu. Sebab aliran pemikiran yang dianutnya dikenal selalu memusuhi semua orang yang berbeda. Terutama jika pihak lawan berasal dari Ikhwanul Muslimun atau memiliki kaitan pemikirannya. Gerakan Adl-Dlawahiri dikenal sangat berani menuduh gerakan-gerakan Islam lainnya, mengecap mereka dengan kesesatan dan menyimpang.
Di sisi lain, para pimpinan gerakan Hamas tentu tidak perlu sertifikat dari pihak manapun yang tidak tahu menahu tentang kondisi dan situasi realitas Palestina dari A-Z atau tidak tahu menahu tentang hakikat gerakan Hamas, sumber tokohnya, dan strategi perlawanannya.
Pimpinan Hamas memperoleh sertifikat keikhlasannya dari darah para pejuangnya yang telah mendahuluinya atau yang masih ada yang diancam dan diincar Israel untuk dibunuh.
Sertifikat kemuliaan nasional dan kebersihan pikiran diperoleh Hamas dari penderitaan para Dai, pejuang dan ulama, dan pimpinannya yang sebagian besar masih ditahan Israel. Penderitaan yang telah dan masih dilalui oleh Hamas adalah pajak yang harus dibayar karena keteguhannya dalam memegang prinsip. Adl-Dlawahiri pasti pernah mendengar hal ini.
Namun yang perlu mendapatkan perhatian adalah tanggapan yang disampaikan oleh saudara Abul Walid (Khalid Misy’al) mengomentasi kritikan Adl-Dlawahiri. Perbedaan antara orang pertama di Hamas dan sikap orang kedua di Al-Qaidah yang pidato-pindatonya mengalami kemunduran jauh yang ia tidak tahun efeknya sekarang.
Sementara Abul Walid menegaskan sikapnya kembali sebagai orang Hamas yang berperangai sopan dan mulia. Mereka jauh dari kepentingan memenangkan diri sendiri demi menjual prinsip-prinsip dan kebiasaan mulia mereka dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat di kalangan kelompok-kelompok Islam. Sebab mereka adalah “keras dan tegas dengan orang kafir dan saling menyayangi sesamanya.
Abul Walid menghormati Adl-Dlawahiri sebagai orang yang diburu Amerika. Abul Walid melihat Adl-Adlawahiri sebagai representasi kelompok jihad melawan Amerika. Abul Walid berusaha menghindar dari mengkritik yang bisa mengurangi kedudukan Adl-Dlawahiri atau mengeluarkan pernyataan yang bisa menyenangkan musuh-musuh Allah, atau membuka peluang semakin memperkeruh, memperdalam perpecahan dan fitnah dalam tubuh umat Islam yang seharusnya saling melengkapi satu sama lain meski berbeda ijtihad kelompok.
Tapi apakah prinsip seperti ini terbersit dalam benak Adl-Dlawahiri ketika hendak melemparkan pernyataan kritikannya terhadap Hamas di depan mata dan telinga dunia?
Abul Walid bisa saja memanfaatkan peluang memetik keuntungan untuk dijadikan dasar di depan Amerika dan Tim Kwartet bahwa itu sebagai bukti bahwa gerakan Hamas tidak terkait dengan gerakan teroris. Namun moral seseorang tidak akan tanpak kecuali dalam kondisi seperti ini. Ahli jihad yang sesungguhnya mampu menghormati semua orang yang memiliki peran dalam melakukan perlawanan terhadap proyek Amerika dan semua yang mendukungnya. Sikap-sikap seperti ini tidak baru bagi pimpinan Hamas dan pada saat yang sama mereka merasakan musuh sedang mengintai mereka. Ketika Israel berpura-pura di depan Arafat untuk melakukan tandatangan perdamaian, kemudian tokoh Palestina itu merasa Israel akan menghabisinya, Hamas membela dan melakukan solidaritas pertama kali, meski dengan berbagai perbedaan sikap politik dan pernah mengeluarkan perinah menangkap pimpinan Hamas.
Ketika Amerika mengumumkan perang terhadap Afganistan, kader Hamas di Tepi Barat dan Gaza adalah yang pertama kali melakukan solidaritas para pejuang Al-Qaidah dan Taliban. Bahkan tak sedikit darah kader-kader Hamas tumpa demi hal itu.
Adl-Dlawahiri telah menyebarkan permushan dan berusaha menggoyang kepercayaan Hamas. Agaknya ada pihak yang membisikkan bahwa para mujahid Al-Qossam bergabung dengan Hamas karena tidak terpenuhinya alternative bergabung dengan Al-Qaidah di Palestina. Atau Adl-Dlawahiri mengira perlawanan dan perang dengan musuh Islam tidak layak bagi kelompok Ikhwanul Muslimun? Tapi waktulah yang membuktikan kegagalan persangkaan ini. Sebagaimana gagalnya pemikiran mereka yang berdarah-darah yang hanya menghasilkan kepahitan.
Adapun berharap Hamas akan jatuh maka harapan itu akan hancur sebelum Hamas tergelincir dari prinsipnya.