infopalestina-Sana : Ketua Biro Politik Hamas, Kholid Misy’al memperkirakan, pihaknya akan memperoleh keberhasilan gemilang dalam membebaskan wilayah Palestina terjajah di masa yang akan datang. Ia mengisyaratkan, Israel kini sedang lemah dan terus mengalami kemunduran.
Ungkapan ini disampaikan Misy’al dalam sidang medianya dengan sejumlah wartawan di Sana Yaman kelmarin (12/3). Beliau mengatakan, generasi Israel sekarang mengalami serangan dari dalam tubuhnya sendiri. Keruntuhan Israel hanya tinggal menunggu waktu. Sementara cita-cita Palestin tinggal di depan mata.
Ia menambahkan, Israel tidak siap untuk berdamai, karena Olmert (perdana menteri Israel) seorang yang lemah. Kepercayaan public terhadapnya juga lemah. Seseorang yang lemah tak mungkin menciptakan perdamaian.
Misy’al mengungkapkan, ada perkembangan baru tentang sikap Eropa. Sejumlah Negara Eropa sedang mempelajari dilanjutkanya kembali bantuan terhadap Palestina. Sikap Rusia terhadp Palestina sangat positif. Kalau saja tidak ada tekanan dari Amerika, maka sejumlah Negara di dunia sudah dari dulu bersikap positif pada Palestin.
Dalam pada itu, menurut Misy’al, susunan pemerintahan persatuan nasional akan selesai pekan ini. Untuk mengangkat rakyat Palestin ke kancah internasional. Misy’al berharap langkah Negara-negara Arab dan Islam mendukung pemerintahan baru ini, agar menjadi contoh bagi masyarakat dunia lainya serta mengambil langkah serupa.
Misy’al menegaskan tentang pentingnya pengakuan Negara-negara Arab dan Islam terhadap pemerintahan baru tersebut serta melakukan kerja sama tanpa membedakan satu sama lainya. Ia juga berharap agar KTT yang sebentar lagi akan digelar di Riyadl dapat menjembatani langkah ini dengan membuat keputusan berani menentang embargo internasional terhadap Palestin.
Terkait dengan persyaratan Israel, bahwa pihaknya akan mengakui pemerintahan persatuan nasional jika Palestina mau menyerahkan tawanan Gilad Shalet yang ditangkap beberapa waktu yang lalu. Misy’al menganggap sikap Israel tersebut sebagai upaya memalingkan masalah pertukaran tawanan yang sebelumnya sudah disepakti.
Ia melanjutkan, kami sudah memperkirakan sikap Israel ini sebelumnya. Keputusan Israel ini akan menentang opini kuat. Kami tidak memperdulikan persyaratan ini, sebab Israel tampaknya tidak serius. Lebih dari itu, Olmert juga tidak mendapat dukungan yang kuat untuk membuat suatu solusi dari masalah ini.
Ketika ditanya tentang kritikan Aiman Al-Dzowahiri, orang kedua di Organisasi Al-Qaidah, Misy’al menjawab, menurutku seseorang tidaklah layak mengkritik orang lain yang sedang dikejar-kejar pemerintah Amerika.
Akan tetapi, jika Hamas bergabung kepada pemerintahan tidaklah mengagetkan. Hamas belum pernah terlibat dalam pemerintahan kecuali sekarang. Kami berpendapat, jika kami meninggalkan pemerintahan Palestina justru akan mengakibat kerusakan yang lebih besar, sebaimana telah kami alami sebelumnya. Yang mendorong kami untuk bergabung dengan pemerintahan adalah rakyat Palestina, ungkapnya.
Ungkapan ini disampaikan Misy’al dalam sidang medianya dengan sejumlah wartawan di Sana Yaman kelmarin (12/3). Beliau mengatakan, generasi Israel sekarang mengalami serangan dari dalam tubuhnya sendiri. Keruntuhan Israel hanya tinggal menunggu waktu. Sementara cita-cita Palestin tinggal di depan mata.
Ia menambahkan, Israel tidak siap untuk berdamai, karena Olmert (perdana menteri Israel) seorang yang lemah. Kepercayaan public terhadapnya juga lemah. Seseorang yang lemah tak mungkin menciptakan perdamaian.
Misy’al mengungkapkan, ada perkembangan baru tentang sikap Eropa. Sejumlah Negara Eropa sedang mempelajari dilanjutkanya kembali bantuan terhadap Palestina. Sikap Rusia terhadp Palestina sangat positif. Kalau saja tidak ada tekanan dari Amerika, maka sejumlah Negara di dunia sudah dari dulu bersikap positif pada Palestin.
Dalam pada itu, menurut Misy’al, susunan pemerintahan persatuan nasional akan selesai pekan ini. Untuk mengangkat rakyat Palestin ke kancah internasional. Misy’al berharap langkah Negara-negara Arab dan Islam mendukung pemerintahan baru ini, agar menjadi contoh bagi masyarakat dunia lainya serta mengambil langkah serupa.
Misy’al menegaskan tentang pentingnya pengakuan Negara-negara Arab dan Islam terhadap pemerintahan baru tersebut serta melakukan kerja sama tanpa membedakan satu sama lainya. Ia juga berharap agar KTT yang sebentar lagi akan digelar di Riyadl dapat menjembatani langkah ini dengan membuat keputusan berani menentang embargo internasional terhadap Palestin.
Terkait dengan persyaratan Israel, bahwa pihaknya akan mengakui pemerintahan persatuan nasional jika Palestina mau menyerahkan tawanan Gilad Shalet yang ditangkap beberapa waktu yang lalu. Misy’al menganggap sikap Israel tersebut sebagai upaya memalingkan masalah pertukaran tawanan yang sebelumnya sudah disepakti.
Ia melanjutkan, kami sudah memperkirakan sikap Israel ini sebelumnya. Keputusan Israel ini akan menentang opini kuat. Kami tidak memperdulikan persyaratan ini, sebab Israel tampaknya tidak serius. Lebih dari itu, Olmert juga tidak mendapat dukungan yang kuat untuk membuat suatu solusi dari masalah ini.
Ketika ditanya tentang kritikan Aiman Al-Dzowahiri, orang kedua di Organisasi Al-Qaidah, Misy’al menjawab, menurutku seseorang tidaklah layak mengkritik orang lain yang sedang dikejar-kejar pemerintah Amerika.
Akan tetapi, jika Hamas bergabung kepada pemerintahan tidaklah mengagetkan. Hamas belum pernah terlibat dalam pemerintahan kecuali sekarang. Kami berpendapat, jika kami meninggalkan pemerintahan Palestina justru akan mengakibat kerusakan yang lebih besar, sebaimana telah kami alami sebelumnya. Yang mendorong kami untuk bergabung dengan pemerintahan adalah rakyat Palestina, ungkapnya.